“Oppa, bolehkan aku bertanya sesuatu padamu?” Sungjae
dan Sooyoung pun berhenti melangkah. Sungjae menatap mata
Sooyoung, tersenyum, dan berkata,
“Tentu saja. Kau ingin bertanya apa, Chagi?”
“Mengapa kau selalu ke hutan itu saat di musim dingin? Apa ada
sesuatu di hutan itu?” Pertanyaan Sooyoung sedikit membuat Sungjae terkejut,
namun ia berusaha untuk tetap bertingkah biasa sebisa mungkin.
“Aniya. Aku hanya ingin mencari ide cerita untuk novelku,”
jawab Sungjae lalu menepuk puncak kepala Sooyoung.
“Ah, baiklah. Aku mengerti. Aku hanya takut kau berselingkuh
di belakangku dan selalu menemui seorang gadis di dalam hutan itu. Hehe…
Mianhae. Seharusnya aku percaya padamu.” Lagi-lagi, perkataan Sooyoung membuat
Sungjae sedikit terdiam.
Ia memang tidak berselingkuh diam-diam, namun benar jika ia
selalu menemui seorang gadis di dalam hutan itu.
Sungjae pun tertawa kecil.
“Tidak apa-apa. Aku suka kau khawatir padaku. Oh ya, aku
diminta untuk membuat novel fantasi yang menarik. Aku diberi waktu dua minggu.
Kau mau membantuku lagi?” Sungjae mencoba mengalihkan topik pembicaraan tadi.
Ya, Sooyoung memang sering membantu Sungjae untuk pembuatan novelnya.
“Kau hanya diberi waktu dua minggu? Aigoo… Atasanmu
benar-benar kejam. Tapi tenang saja, aku akan membantumu.” Sungjae tertawa
kecil lagi.
Ia mengacak-acak rambut Sooyoung.
Sooyoung mem-pout-kan bibirnya membuat Sungjae gemas lalu
mencubit kecil pipi Sooyoung.
“Baiklah, ayo kita ke vila! Aku sudah mendapatkan ide untuk
novelku saat tadi di hutan.” Sungjae dan Sooyoung pun kembali melangkah menuju
vila.
Mereka masih berpegangan tangan dan kali ini, Sooyoung
menyenderkan kepalanya pada bahu Sungjae.
Sesampainya di vila, bibi Sungjae menyambut mereka.
“Aigoo… Kalian ini benar-benar mesra. Masuklah ke dalam,
nanti kalian bisa kedinginan. Bibi akan membuatkan teh hangat untuk kalian.”
“Kamsahamnida, Ahjumma. Kami masuk dulu, ne,” ucap Sooyoung
lalu membungkukkan badannya diikuti oleh Sungjae. Mereka pun memasuki vila.
Sesampainya di sana, Sooyoung yang melihat koper Sungjae masih penuh barang-barang pun bertanya,
“Kau belum merapikan barang-barangmu, Sayang?”
“Belum. Hehehe… Tadi aku ingin segera ke hutan dan menemukan ide agar novelku bisa cepat selesai,” jawab Sungjae lalu menunjukkan cengiran bodohnya.
“Aigoo… Kau ini. Baiklah, rapikan dulu barang-barangmu lalu baru menyusun novelmu. Arraseo?”
“Arraseo, Kalau begitu, ayo bantu aku.”
--
2 hari telah berlalu, Sungjae tak kembali mencari gadis misterius itu di hutan, karena Sooyoung yang selalu saja bersamanya.
Hari ini ada sesuatu yang membuat Sooyoung harus pulang, dan terpaksa meninggalkan Sungjae.
Sungjae pun bertekat untuk kembali ke hutan, demi mencari tau tentang gadis itu. Dengan segera Ia pergi menuju hutan, hanya dengan memakai jaket tebal dan mengantongi ponselnya, Ia berjalan menyusuri hutan di dekat villanya itu.
“Dingin sekali, sepertinya hari ini lebih dingin dari biasanya.” Ucap Sungjae sambil terus menyusuri hutan yang luas itu.
Drrtt… Drrt…
Ponsel Sungjae bergetar menandakan ada panggilan masuk. Sungjae mengambil ponselnya yang berada di kantong jaketnya, ternyata Paman Sungjae yang menelfon dan langsung diangkat oleh Sungjae.
“Yeobseo..”
“Cepat kemb--, ak-- ada bad-i salj-“ ucap paman Sungjae dari sebrang, tetapi suaranya terputus-putus karna sinyal mulai hilang.
“Apa yang kau katakan Paman?? Aku tak mendengarnya. Nanti saja ku telefon kembali.”
Sungjae pun mematikan telefon dengan sepihak, dan melanjutkan perjalanannya kembali, menuju bangku yang berada di hutan itu.
Badai salju? Apa itu yang dibicarakan paman tadi?
“Hei, Kau dimana?” *bingung mau kasih kata apaan*
Aish.., Mengapa semakin dingin?, gumam Sungjae sambil mendekap tubuhnya sendiri.
Mulai banyak sekali salju yang turun, angin semakin kencang dan membuat pohon-pohon di hutan bergoyang. Sungjae hanya duduk di bangku, sambil mengedarkan pandangannya mencari sosok yang dicarinya.
Suhu semakin turun, membuat badan Sungjae menjadi semakin menggigil.
“Aku tidak akan pergi sebelum menemuimu… Hei., Ayo keluarlah.., aku hanya ingin mengenalmu..” Ujar Sungjae yang belum beranjak dari tempatnya.